Sabtu, 12 November 2011

KARYA RONGGOWARSITO



SERAT KALATIDA

Sinom 1. Mangkya darajating praja Kawuryan wus sunyaturi Rurah pangrehing ukara Karana tanpa palupi Atilar silastuti Sujana sarjana kelu Kalulun kala tida Tidhem tandhaning dumadi Ardayengrat dene karoban rubeda

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama. Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.

2. Ratune ratu utama Patihe patih linuwih Pra nayaka tyas raharja Panekare becik-becik Paranedene tan dadi Paliyasing Kala Bendu Mandar mangkin andadra Rubeda angrebedi Beda-beda ardaning wong saknegara

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu. Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan maksudnya.

3.Katetangi tangisira Sira sang paramengkawi Kawileting tyas duhkita Katamen ing ren wirangi Dening upaya sandi Sumaruna angrawung Mangimur manuhara Met pamrih melik pakolih Temah suka ing karsa tanpa wiweka

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan, mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang. Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.

4.Dasar karoban pawarta Bebaratun ujar lamis Pinudya dadya pangarsa Wekasan malah kawuri Yan pinikir sayekti Mundhak apa aneng ngayun Andhedher kaluputan Siniraman banyu lali Lamun tuwuh dadi kekembanging beka

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu. Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ? Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.

5. Ujaring panitisastra Awewarah asung peling Ing jaman keneng musibat Wong ambeg jatmika kontit Mengkono yen niteni Pedah apa amituhu Pawarta lolawara Mundhuk angreranta ati Angurbaya angiket cariteng kuna

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan. Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai. Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.

6. Keni kinarta darsana Panglimbang ala lan becik Sayekti akeh kewala Lelakon kang dadi tamsil Masalahing ngaurip Wahaninira tinemu Temahan anarima Mupus pepesthening takdir Puluh-Puluh anglakoni kaelokan

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama, mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya "nrima" dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.

7. Amenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Milu edan nora tahan Yen tan milu anglakoni Boya kaduman melik Kaliren wekasanipun Ndilalah karsa Allah Begja-begjane kang lali Luwih begja kang eling lawan waspada

Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.

8. Semono iku bebasan Padu-padune kepengin Enggih mekoten man Doblang Bener ingkang angarani Nanging sajroning batin Sejatine nyamut-nyamut Wis tuwa arep apa Muhung mahas ing asepi Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ? Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua, apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.

9.Beda lan kang wus santosa Kinarilah ing Hyang Widhi Satiba malanganeya Tan susah ngupaya kasil Saking mangunah prapti Pangeran paring pitulung Marga samaning titah Rupa sabarang pakolih Parandene maksih taberi ikhtiyar

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan. Bagaimanapun nasibnya selalu baik. Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. Namun demikian masih juga berikhtiar.

10. Sakadare linakonan Mung tumindak mara ati Angger tan dadi prakara Karana riwayat muni Ikhtiyar iku yekti Pamilihing reh rahayu Sinambi budidaya Kanthi awas lawan eling Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan. Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar, hanya harus memilih jalan yang baik. Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.

11. Ya Allah ya Rasulullah Kang sipat murah lan asih Mugi-mugi aparinga Pitulung ingkang martani Ing alam awal akhir Dumununging gesang ulun Mangkya sampun awredha Ing wekasan kadi pundi Mula mugi wontena pitulung Tuwan

Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini. Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.

12. Sageda sabar santosa Mati sajroning ngaurip Kalis ing reh aruraha Murka angkara sumingkir Tarlen meleng malat sih Sanityaseng tyas mematuh Badharing sapudhendha Antuk mayar sawetawis BoRONG angGA saWARga meSI marTAya

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, seolah-olah dapat mati didalam hidup. Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan. Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya. Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

==========================================

PUJANGGA R. Ng. Ronggowarsito

R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.

Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.

Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.

Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal 24.
[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous Message ]Replies:
[> Subject: Re: SERAT KALATIDHA & Sekilas Tentang R. Ng. Ronggowarsito


Author: Fabian [ Edit | View ] Date Posted: 07:19:43 07/24/05 Sun
>SERAT KALATIDA > >Sinom >1. Mangkya darajating praja >Kawuryan wus sunyaturi >Rurah pangrehing ukara >Karana tanpa palupi >Atilar silastuti >Sujana sarjana kelu >Kalulun kala tida >Tidhem tandhaning dumadi >Ardayengrat dene karoban rubeda > >Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. >Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena >sudah tak ada yang dapat diikuti lagi. >Sudah banyak yang meninggalkan >petuah-petuah/aturan-aturan lama. >Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha >(jaman yang penuh keragu-raguan). >Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan >kerepotan. > >2. Ratune ratu utama >Patihe patih linuwih >Pra nayaka tyas raharja >Panekare becik-becik >Paranedene tan dadi >Paliyasing Kala Bendu >Mandar mangkin andadra >Rubeda angrebedi >Beda-beda ardaning wong saknegara > >Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, >Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, >pemuka-pemuka masyarakat baik, >namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. >Oleh karena daya jaman Kala Bendu. >Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. >Lain orang lain pikiran dan maksudnya. > >3.Katetangi tangisira >Sira sang paramengkawi >Kawileting tyas duhkita >Katamen ing ren wirangi >Dening upaya sandi >Sumaruna angrawung >Mangimur manuhara >Met pamrih melik pakolih >Temah suka ing karsa tanpa wiweka > >Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh >kesedihan, >mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan >seseorang. >Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur >sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan >tidak waspada. > > 4.Dasar karoban pawarta >Bebaratun ujar lamis >Pinudya dadya pangarsa >Wekasan malah kawuri >Yan pinikir sayekti >Mundhak apa aneng ngayun >Andhedher kaluputan >Siniraman banyu lali >Lamun tuwuh dadi kekembanging beka > >Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada >menentu. >Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama >sekali tidak benar, >bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. >Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi >pemuka/pemimpin ? >Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. >Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak >lain hanyalah kerepotan. > >5. Ujaring panitisastra >Awewarah asung peling >Ing jaman keneng musibat >Wong ambeg jatmika kontit >Mengkono yen niteni >Pedah apa amituhu >Pawarta lolawara >Mundhuk angreranta ati >Angurbaya angiket cariteng kuna > >Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya >sudah ada peringatan. >Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, >orang yang berbudi tidak terpakai. >Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya >meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan >hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman >dahulu kala. > >6. Keni kinarta darsana >Panglimbang ala lan becik >Sayekti akeh kewala >Lelakon kang dadi tamsil >Masalahing ngaurip >Wahaninira tinemu >Temahan anarima >Mupus pepesthening takdir >Puluh-Puluh anglakoni kaelokan > >Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, >guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. >Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam >kisah-kisah lama, >mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, >akhirnya "nrima" >dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan. >Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian >yang aneh-aneh. > >7. Amenangi jaman edan >Ewuh aya ing pambudi >Milu edan nora tahan >Yen tan milu anglakoni >Boya kaduman melik >Kaliren wekasanipun >Ndilalah karsa Allah >Begja-begjane kang lali >Luwih begja kang eling lawan waspada > >Hidup didalam jaman edan, memang repot. >Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak >mengikuti geraknya jaman >tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita >kelaparan. >Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga >walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih >bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada. > >8. Semono iku bebasan >Padu-padune kepengin >Enggih mekoten man Doblang >Bener ingkang angarani >Nanging sajroning batin >Sejatine nyamut-nyamut >Wis tuwa arep apa >Muhung mahas ing asepi >Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma > >Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan >hati. Betul bukan ? >Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. >Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang >sudah tua, >apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar >mendapat ampunan dari Tuhan. > >9.Beda lan kang wus santosa >Kinarilah ing Hyang Widhi >Satiba malanganeya >Tan susah ngupaya kasil >Saking mangunah prapti >Pangeran paring pitulung >Marga samaning titah >Rupa sabarang pakolih >Parandene maksih taberi ikhtiyar > >Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan. >Bagaimanapun nasibnya selalu baik. >Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. >Namun demikian masih juga berikhtiar. > >10. Sakadare linakonan >Mung tumindak mara ati >Angger tan dadi prakara >Karana riwayat muni >Ikhtiyar iku yekti >Pamilihing reh rahayu >Sinambi budidaya >Kanthi awas lawan eling >Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma > >Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya >tidak menimbulkan persoalan. >Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa >manusia itu wajib ikhtiar, >hanya harus memilih jalan yang baik. >Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan >waspada agar mendapat rakhmat Tuhan. > >11. Ya Allah ya Rasulullah >Kang sipat murah lan asih >Mugi-mugi aparinga >Pitulung ingkang martani >Ing alam awal akhir >Dumununging gesang ulun >Mangkya sampun awredha >Ing wekasan kadi pundi >Mula mugi wontena pitulung Tuwan > >Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih, >mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu >disaat-saat menjelang akhir ini. >Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. >Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami. > >12. Sageda sabar santosa >Mati sajroning ngaurip >Kalis ing reh aruraha >Murka angkara sumingkir >Tarlen meleng malat sih >Sanityaseng tyas mematuh >Badharing sapudhendha >Antuk mayar sawetawis >BoRONG angGA saWARga meSI marTAya > >Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, >seolah-olah dapat mati didalam hidup. >Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara >murkaan. >Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar >mendapat ampunan sekedarnya. >Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami. > >========================================== > >PUJANGGA R. Ng. Ronggowarsito > >R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus >Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. >Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang >pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat >yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang >terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil >inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren >Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari. > >Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru >kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. >Tanggung jawab selama berguru itu sepenuhnya >diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua >bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan >dengan teman seangkatannya. Disamping itu, Bagus >Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa >kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal >500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah >dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum >nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja >sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus >Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan >Ki Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok >Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal >di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. >Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke >Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati >cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i, >mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup >menunggu kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun >saja, karena sang Adi pati akan mampir di Madiun dalam >rangka menghadap ke Kraton Surakarta. > >Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan >Raden Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti >panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di >Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah >selapan (35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke >Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja ikut serta. Setelah >berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon >untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. >Demikian juga berguru kepada Kyai Tunggulwulung di >Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai >Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan >berharga itu, beliau berhasil membawa pulang beberapa >catatan peringatan perjalanan dan kumpulan >kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan >Kediri ke Surakarta. > >Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal >21 April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi >Kaliwon Kadipaten Anom dan menduduki jabatan sebagai >Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun >1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi >dengan putri RMP. Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat >pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon tanggal >24 

Jumat, 11 November 2011


UNTUKMU RATU AYU

Dirimu diantara tepukan
Dirimu bermandikan sanjungan
Dirimu bersimbah pujian
Dan.......dirimu hanyut dalam angan-angan

Wahai Ratu Ayu....
Wajah indah bukan milikmu
Pesona diri bukan tontonan
Kecantikan tidak untuk dipamerkan

Wahai Ratu Ayu.....
Engkau tertipu kemilau semu
Engkau lupa seruan Tuhanmu
Berdalih harumkan negeri,walau berkababut nuansa palsu

Wahai Ratu Ayu.....
Walau hadir berjuta makna
Tapi kilah berselimut noda
Dan........yang pasti Tuhanmu murka

Wahai Ratu Ayu.....
Siapakah yang memilikimu cantik indahmu
Siapakah yang membuat dirimu berilmu
Siapakah yang menjadikan semua itu
Bukankah ada kata sang pencipta
Tubuh dan kecantikan miliknya semata
Ada harus menjaga semua itu
Menutupinya agar amaan bagimu

Wahai Ratu Ayu.....
Dunia adalaah fatamorgana
Yang indah kata manusia
Tapi bukan kata sang pencipta
Walau tak ada rugi baginya, tapi tak malukah kita

Wahai Ratu Ayu.....
Semua yang dipertontonkan
Akan diminta pertanggung jawaban
Padang hisab siap menanti
Nyala api akan membakar tubuhmu nanti

Wahai Ratu Ayu.....
Tepukan kan usai sudah
Kebanggaan kan berganti resah
Mereka tak mungkin ikut membela
Saat Tuhanmu berkata murka

Wahai Ratu Ayu.....
Cantikmu kan pudar ditelan waktu
Harummu kan usai dan berlalu
Sebelum Tuhan menutup pintu
Segeralah berlari menghadap Robb-mu

Wahai Ratu Ayu.....
Jangan berpamer badan
Rambutpun tak boleh kelihatan
Engkau bertumpu pada pujian
Sementara yang mencipta engkau lupakan

Selasa, 08 November 2011

GEGURITAN

Karya Geguritan : Dalam rangka Lomba Karya Geguritan se-Jawa Timur tanggal 18 Maret 2010 di Kota Kediri

 

"YAKIN"


Koyo-koyo kudu ndang tak tekem,
Lan tak dilat jenenge pucuk langit,
Opo dene lintang-lintang,sing kumejar ing angkoso kae
Mendah boyo rasane atiku
Banggaku..........................
Tentremku........................
Senengku..........................
Kabeh sing tak dekep,
Sing tak karep biso tak rangkul ceket,
Rumesep ing roso jiwo ragaku
Luwih-luwih kanthi kekalung agomo iki.............
Mandar mugo dadio lan wibawaku
Yakin lakuku mesti bakal teguh,madep mantep
Ora bakal pontang-panting lan mingkuh
Anggonku bakal gelut lawan lelakuning urip
Duh gusti ijabahono sakehing gegayutanku
Mbesuk ben luwih mulyo uripku....................


Tgl . Pembuatan : Pasuruan, 3 Maret 2010
Penggurit : SLAMET JUHANTO, S.Pd