SERAT KALATIDA
Sinom 1. Mangkya darajating praja Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara Karana tanpa palupi Atilar silastuti Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida Tidhem tandhaning dumadi Ardayengrat dene karoban rubeda
Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat
diikuti lagi. Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh
keragu-raguan). Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.
2. Ratune ratu utama Patihe patih linuwih Pra nayaka tyas
raharja Panekare becik-becik Paranedene tan dadi Paliyasing Kala Bendu Mandar
mangkin andadra Rubeda angrebedi Beda-beda ardaning wong saknegara
Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik, Patihnya juga
cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik, namun
segalanya itu tidak menciptakan kebaikan. Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi. Lain orang lain pikiran dan
maksudnya.
3.Katetangi tangisira Sira sang paramengkawi Kawileting tyas
duhkita Katamen ing ren wirangi Dening upaya sandi Sumaruna angrawung Mangimur
manuhara Met pamrih melik pakolih Temah suka ing karsa tanpa wiweka
Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh
kesedihan, mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur sehingga sang Pujangga
karena gembira hatinya dan tidak waspada.
4.Dasar karoban pawarta Bebaratun ujar lamis Pinudya dadya
pangarsa Wekasan malah kawuri Yan pinikir sayekti Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan Siniraman banyu lali Lamun tuwuh dadi kekembanging beka
Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar, bahkan
tidak mendapat perhatian sama sekali. Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih
gunanya menjadi pemuka/pemimpin ? Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.
5. Ujaring panitisastra Awewarah asung peling Ing jaman
keneng musibat Wong ambeg jatmika kontit Mengkono yen niteni Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara Mundhuk angreranta ati Angurbaya angiket cariteng kuna
Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah
ada peringatan. Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang
yang berbudi tidak terpakai. Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya
meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik
membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.
6. Keni kinarta darsana Panglimbang ala lan becik Sayekti
akeh kewala Lelakon kang dadi tamsil Masalahing ngaurip Wahaninira tinemu
Temahan anarima Mupus pepesthening takdir Puluh-Puluh anglakoni kaelokan
Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, guna
membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul. Sebenarnya banyak sekali
contoh -contoh dalam kisah-kisah lama, mengenai kehidupan yang dapat
mendinginkan hati, akhirnya "nrima" dan menyerahkan diri kepada
kehendak Tuhan. Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang
aneh-aneh.
7. Amenangi jaman edan Ewuh aya ing pambudi Milu edan nora
tahan Yen tan milu anglakoni Boya kaduman melik Kaliren wekasanipun Ndilalah
karsa Allah Begja-begjane kang lali Luwih begja kang eling lawan waspada
Hidup didalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak
sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun
juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan.
Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih
bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.
8. Semono iku bebasan Padu-padune kepengin Enggih mekoten
man Doblang Bener ingkang angarani Nanging sajroning batin Sejatine
nyamut-nyamut Wis tuwa arep apa Muhung mahas ing asepi Supayantuk
pangaksamaning Hyang Suksma
Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati.
Betul bukan ? Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. Namun sebenarnya
didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua, apa pula yang dicari. Lebih baik
menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.
9.Beda lan kang wus santosa Kinarilah ing Hyang Widhi Satiba
malanganeya Tan susah ngupaya kasil Saking mangunah prapti Pangeran paring
pitulung Marga samaning titah Rupa sabarang pakolih Parandene maksih taberi
ikhtiyar
Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik. Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba
mendapat anugerah. Namun demikian masih juga berikhtiar.
10. Sakadare linakonan Mung tumindak mara ati Angger tan
dadi prakara Karana riwayat muni Ikhtiyar iku yekti Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya Kanthi awas lawan eling Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma
Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak
menimbulkan persoalan. Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa
manusia itu wajib ikhtiar, hanya harus memilih jalan yang baik. Bersamaan
dengan usaha tersebut juga harus awas dan waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.
11. Ya Allah ya Rasulullah Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga Pitulung ingkang martani Ing alam awal akhir Dumununging
gesang ulun Mangkya sampun awredha Ing wekasan kadi pundi Mula mugi wontena
pitulung Tuwan
Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir
ini. Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana. Hanya Tuhanlah yang
mampu menolong kami.
12. Sageda sabar santosa Mati sajroning ngaurip Kalis ing
reh aruraha Murka angkara sumingkir Tarlen meleng malat sih Sanityaseng tyas
mematuh Badharing sapudhendha Antuk mayar sawetawis BoRONG angGA saWARga meSI
marTAya
Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa, seolah-olah
dapat mati didalam hidup. Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara
murkaan. Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan
sekedarnya. Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.
==========================================
PUJANGGA R. Ng. Ronggowarsito
R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil Bagus Burham
pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. Ng. Pajangsworo. Kakeknya, R.T.
Sastronagoro yang pertama kali menemukan satu jiwa yang teguh dan bakat yang
besar di balik kenakalan Burham kecil yang memang terkenal bengal. Sastronagoro
kemudian mengambil inisiatif untuk mengirimnya nyantri ke Pesantren Gebang
Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai Kasan Besari.
Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru kepada Kyai
Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. Tanggung jawab selama berguru itu
sepenuhnya diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih dua bulan, tidak
maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan dengan teman seangkatannya. Disamping
itu, Bagus Burham di Panaraga mempunyai tabiat buruk yang berupa kesukaan
berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal 500 reyal habis bahkan 2 (dua)
kudanyapun telah dijual. Sedangkan kemajuannya dalam belajar belum nampak.,
Kyai Imam Besari menyalahkan Ki Tanudjaja sebagai pamong yang selalu menuruti
kehendak Bagus Burham yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan Ki
Tanudjaja dengan diam-diam menghilang dari Pondok Gebang Tinatar menuju ke
Mara. Disini mereka tinggal di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki
Tanudjaja. Menurut rencana, dari Mara mereka akan menuju ke Kediri, untuk
menghadap Bupati Kediri Pangeran Adipati cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki
Ngasan Nga1i, mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup menunggu
kehadiran Sang Adipati Cakraningrat di Madiun saja, karena sang Adi pati akan
mampir di Madiun dalam rangka menghadap ke Kraton Surakarta.
Mas Rangga Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan Raden
Ajeng Gombak dan diambil anak angkat oleh Gusti panembahan Buminata. Perkawinan
dilaksanakan di Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah selapan
(35 hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja
ikut serta. Setelah berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon untuk
berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. Demikian juga berguru kepada Kyai
Tunggulwulung di Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi dan Kyai Ajar
Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan berharga itu, beliau berhasil
membawa pulang beberapa catatan peringatan perjalanan dan kumpulan kropak-kropak
serta peninggalan lama dari Bali dan Kediri ke Surakarta.
Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal 21
April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi Kaliwon Kadipaten Anom dan
menduduki jabatan sebagai Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun
1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi dengan putri RMP.
Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu pon
tanggal 24.
[ Next Thread | Previous Thread | Next Message | Previous
Message ]Replies:
[> Subject: Re: SERAT KALATIDHA & Sekilas
Tentang R. Ng. Ronggowarsito
Author: Fabian [ Edit | View ] Date
Posted: 07:19:43 07/24/05 Sun
>SERAT KALATIDA > >Sinom >1. Mangkya darajating
praja >Kawuryan wus sunyaturi >Rurah pangrehing ukara >Karana tanpa
palupi >Atilar silastuti >Sujana sarjana kelu >Kalulun kala tida
>Tidhem tandhaning dumadi >Ardayengrat dene karoban rubeda >
>Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot. >Situasi (keadaan
tata negara) telah rusah, karena >sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
>Sudah banyak yang meninggalkan >petuah-petuah/aturan-aturan lama.
>Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha >(jaman yang penuh
keragu-raguan). >Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan
>kerepotan. > >2. Ratune ratu utama >Patihe patih linuwih >Pra
nayaka tyas raharja >Panekare becik-becik >Paranedene tan dadi
>Paliyasing Kala Bendu >Mandar mangkin andadra >Rubeda angrebedi
>Beda-beda ardaning wong saknegara > >Sebenarnya rajanya termasuk raja
yang baik, >Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik,
>pemuka-pemuka masyarakat baik, >namun segalanya itu tidak menciptakan
kebaikan. >Oleh karena daya jaman Kala Bendu. >Bahkan kerepotan-kerepotan
makin menjadi-jadi. >Lain orang lain pikiran dan maksudnya. >
>3.Katetangi tangisira >Sira sang paramengkawi >Kawileting tyas
duhkita >Katamen ing ren wirangi >Dening upaya sandi >Sumaruna
angrawung >Mangimur manuhara >Met pamrih melik pakolih >Temah suka ing
karsa tanpa wiweka > >Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh
>kesedihan, >mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan
>seseorang. >Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
>sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan >tidak waspada. >
> 4.Dasar karoban pawarta >Bebaratun ujar lamis >Pinudya dadya
pangarsa >Wekasan malah kawuri >Yan pinikir sayekti >Mundhak apa aneng
ngayun >Andhedher kaluputan >Siniraman banyu lali >Lamun tuwuh dadi
kekembanging beka > >Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada
>menentu. >Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama
>sekali tidak benar, >bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
>Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi >pemuka/pemimpin ?
>Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja. >Lebih-lebih bila ketambahan
lupa diri, hasilnya tidak >lain hanyalah kerepotan. > >5. Ujaring
panitisastra >Awewarah asung peling >Ing jaman keneng musibat >Wong
ambeg jatmika kontit >Mengkono yen niteni >Pedah apa amituhu >Pawarta
lolawara >Mundhuk angreranta ati >Angurbaya angiket cariteng kuna >
>Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya >sudah ada
peringatan. >Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, >orang
yang berbudi tidak terpakai. >Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya
>meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan >hati saja. Lebih
baik membuat karya-karya kisah jaman >dahulu kala. > >6. Keni kinarta
darsana >Panglimbang ala lan becik >Sayekti akeh kewala >Lelakon kang
dadi tamsil >Masalahing ngaurip >Wahaninira tinemu >Temahan anarima
>Mupus pepesthening takdir >Puluh-Puluh anglakoni kaelokan >
>Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala, >guna membandingkan
perbuatan yang salah dan yang betul. >Sebenarnya banyak sekali contoh
-contoh dalam >kisah-kisah lama, >mengenai kehidupan yang dapat
mendinginkan hati, >akhirnya "nrima" >dan menyerahkan diri
kepada kehendak Tuhan. >Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian
>yang aneh-aneh. > >7. Amenangi jaman edan >Ewuh aya ing pambudi
>Milu edan nora tahan >Yen tan milu anglakoni >Boya kaduman melik
>Kaliren wekasanipun >Ndilalah karsa Allah >Begja-begjane kang lali
>Luwih begja kang eling lawan waspada > >Hidup didalam jaman edan,
memang repot. >Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak
>mengikuti geraknya jaman >tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat
menderita >kelaparan. >Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun
juga >walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih >bahagia
lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada. > >8. Semono iku bebasan
>Padu-padune kepengin >Enggih mekoten man Doblang >Bener ingkang
angarani >Nanging sajroning batin >Sejatine nyamut-nyamut >Wis tuwa
arep apa >Muhung mahas ing asepi >Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma
> >Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan >hati. Betul
bukan ? >Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian. >Namun
sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang >sudah tua, >apa pula yang
dicari. Lebih baik menyepi diri agar >mendapat ampunan dari Tuhan. >
>9.Beda lan kang wus santosa >Kinarilah ing Hyang Widhi >Satiba
malanganeya >Tan susah ngupaya kasil >Saking mangunah prapti >Pangeran
paring pitulung >Marga samaning titah >Rupa sabarang pakolih
>Parandene maksih taberi ikhtiyar > >Lain lagi bagi yang sudah kuat.
Mendapat rakhmat Tuhan. >Bagaimanapun nasibnya selalu baik. >Tidak perlu
bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah. >Namun demikian masih juga
berikhtiar. > >10. Sakadare linakonan >Mung tumindak mara ati
>Angger tan dadi prakara >Karana riwayat muni >Ikhtiyar iku yekti
>Pamilihing reh rahayu >Sinambi budidaya >Kanthi awas lawan eling
>Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma > >Apapun dilaksanakan. Hanya
membuat kesenangan pokoknya >tidak menimbulkan persoalan. >Agaknya ini
sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa >manusia itu wajib ikhtiar,
>hanya harus memilih jalan yang baik. >Bersamaan dengan usaha tersebut
juga harus awas dan >waspada agar mendapat rakhmat Tuhan. > >11. Ya
Allah ya Rasulullah >Kang sipat murah lan asih >Mugi-mugi aparinga
>Pitulung ingkang martani >Ing alam awal akhir >Dumununging gesang
ulun >Mangkya sampun awredha >Ing wekasan kadi pundi >Mula mugi
wontena pitulung Tuwan > >Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan
asih, >mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu >disaat-saat
menjelang akhir ini. >Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
>Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami. > >12. Sageda sabar santosa
>Mati sajroning ngaurip >Kalis ing reh aruraha >Murka angkara
sumingkir >Tarlen meleng malat sih >Sanityaseng tyas mematuh
>Badharing sapudhendha >Antuk mayar sawetawis >BoRONG angGA saWARga
meSI marTAya > >Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
>seolah-olah dapat mati didalam hidup. >Lepas dari kerepotan serta jauh
dari keangakara >murkaan. >Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU
agar >mendapat ampunan sekedarnya. >Kemudian kami serahkan jiwa dan raga
dan kami. > >========================================== > >PUJANGGA
R. Ng. Ronggowarsito > >R. Ng. Ronggowarsito terlahir dengan nama kecil
Bagus >Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M, putra dari RM. >Ng.
Pajangsworo. Kakeknya, R.T. Sastronagoro yang >pertama kali menemukan satu
jiwa yang teguh dan bakat >yang besar di balik kenakalan Burham kecil yang
memang >terkenal bengal. Sastronagoro kemudian mengambil >inisiatif untuk
mengirimnya nyantri ke Pesantren >Gebang Tinatar di Ponorogo asuhan Kyai
Kasan Besari. > >Menjelang dewasa (1813 Masehi), ia pergi berguru
>kepada Kyai Imam Besari dipondok Gebang Tinatar. >Tanggung jawab selama
berguru itu sepenuhnya >diserahkan pada Ki Tanudjaja. Ternyata telah lebih
dua >bulan, tidak maju-rnaju, dan ia sangat ketinggalan >dengan teman
seangkatannya. Disamping itu, Bagus >Burham di Panaraga mempunyai tabiat
buruk yang berupa >kesukaan berjudi. Dalam tempo kurang satu tahun bekal
>500 reyal habis bahkan 2 (dua) kudanyapun telah >dijual. Sedangkan
kemajuannya dalam belajar belum >nampak., Kyai Imam Besari menyalahkan Ki
Tanudjaja >sebagai pamong yang selalu menuruti kehendak Bagus >Burham
yang kurang baik itu. Akhirnya Bagus Burham dan >Ki Tanudjaja dengan diam-diam
menghilang dari Pondok >Gebang Tinatar menuju ke Mara. Disini mereka tinggal
>di rumah Ki ngasan Ngali saudara sepupu Ki Tanudjaja. >Menurut rencana,
dari Mara mereka akan menuju ke >Kediri, untuk menghadap Bupati Kediri
Pangeran Adipati >cakraningrat. Namun atas petunjuk Ki Ngasan Nga1i,
>mereka berdua tidak perlu ke Kediri, melainkan cukup >menunggu kehadiran
Sang Adipati Cakraningrat di Madiun >saja, karena sang Adi pati akan mampir
di Madiun dalam >rangka menghadap ke Kraton Surakarta. > >Mas Rangga
Panjanganom melaksanakan pernikahan dengan >Raden Ajeng Gombak dan diambil
anak angkat oleh Gusti >panembahan Buminata. Perkawinan dilaksanakan di
>Buminata. Saat itu usia Bagus Burham 21 tahun. Setelah >selapan (35
hari) perkawinan, keduanya berkunjung ke >Kediri, dalam hal ini Ki Tanudjaja
ikut serta. Setelah >berbakti kepada mertua, kemudianBagus Burham mohon
>untuk berguru ke Bali yang sebelumnya ke Surabaya. >Demikian juga
berguru kepada Kyai Tunggulwulung di >Ngadiluwih, Kyai Ajar Wirakanta di Ragajambi
dan Kyai >Ajar Sidalaku di Tabanan-Bali. Dalam kesempatan >berharga itu,
beliau berhasil membawa pulang beberapa >catatan peringatan perjalanan dan
kumpulan >kropak-kropak serta peninggalan lama dari Bali dan >Kediri ke
Surakarta. > >Setelah neneknya RT. Sastranegara wafat pada tanggal >21
April 1844, R.Ng. Ranggawarsita diangkat menjadi >Kaliwon Kadipaten Anom dan
menduduki jabatan sebagai >Pujangga keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun
>1845. Pada tahun ini juga, Ranggawarsita kawin lagi >dengan putri RMP.
Jayengmarjasa. Ranggawarsita wafat >pada tahun 1873 bulan Desember hari Rabu
pon tanggal >24
